Filter keramik untuk pengecoran dapat secara efektif menghilangkan kotoran berukuran besar dalam aluminium cair serta menyerap partikel kotoran halus berukuran mikron, sehingga meningkatkan kualitas permukaan, meningkatkan kinerja produk, memperbaiki struktur mikro, dan meningkatkan hasil produksi. Filter ini banyak digunakan dalam produksi profil aluminium, foil aluminium, dan paduan aluminium.

Proses Pembuatan Filter Busa Keramik
Filter busa keramik untuk pengecoran memiliki struktur jaringan tiga dimensi, serta menggunakan spons busa organik yang pori-porinya saling terhubung sebagai media pembawa untuk merendamnya dalam bubur keramik khusus yang bersifat tiksotropik, dan menggunakan proses ekstrusi rol khusus untuk mendistribusikan bubur keramik tersebut secara merata ke permukaan. tulang punggung media penyangga. Selanjutnya, bahan tersebut dikeringkan dan diawetkan, lalu dibakar pada suhu tinggi.
Porositas adalah persentase dari total volume rongga-rongga di dalam filter keramik berbusa produk tersebut terhadap volume total filter. Porositas menentukan kapasitas penyaringan filter busa keramik per satuan volume. Semakin tinggi porositasnya, semakin besar laju aliran penyaringan filter tersebut, dan semakin tinggi pula kapasitas penyaringannya.
Saat ini, terdapat dua metode utama untuk menghitung volume lubang pada filter keramik:
Salah satu caranya adalah dengan menghitung volume lubang-lubang pada filter keramik berbahan busa berdasarkan hukum Archimedes, yaitu dengan menggunakan pipa luapan untuk menuangkan air ke dalam gelas kimia hingga air mengalir keluar dari pipa luapan, lalu melakukan pengujian terhadap air tersebut. Air tidak lagi mengalir keluar. Masukkan semua sampel ke dalam air dengan hati-hati, kemudian air akan mengalir keluar melalui pipa luapan, dan ukur jumlah air di bagian tersebut. Kurangi volume air yang meluap dari volume fisik pelat filter, yang merupakan volume total lubang-lubang pada pelat filter.
Metode lainnya adalah dengan menentukan densitas sebenarnya dan densitas volume sampel yang akan diuji, kemudian menghitung porositas sampel tersebut berdasarkan rumus berikut.
Kedua metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Metode pengoperasiannya sederhana dan praktis, serta kecepatan pendeteksiannya tinggi, namun kelemahan fatalnya terletak pada sifat penyerapan air dari bahan pelat filter itu sendiri, sehingga jumlah air yang dikeluarkan lebih sedikit daripada jumlah air yang sebenarnya. Hal ini mengakibatkan data pengukuran menjadi terlalu kecil.
Meskipun proses pengujian pada metode kedua lebih rumit, pengaruh laju penyerapan air bahan pelat saring dapat dikesampingkan selama pengujian, sehingga data yang diperoleh relatif akurat.
Dalam standar ini, indeks porositas ditetapkan lebih besar dari 84%.






