Penyaringan merupakan metode paling efektif dan andal untuk menghilangkan inklusi non-logam dalam cairan aluminium. Terdapat beberapa metode penyaringan, dan yang memberikan hasil terbaik adalah Filter Busa Logam.
Filter Busa Logam banyak digunakan di seluruh dunia karena kemudahan penggunaannya, efisiensi penyaringan yang baik, dan harganya yang terjangkau. Di negara-negara maju, lelehan paduan aluminium 50% disaring menggunakan pelat filter keramik berbahan busa. Untuk memenuhi persyaratan produk berkualitas tinggi terkait kualitas lelehan, ukuran pori dari filter busa keramik semakin mengecil.

Filter Busa Logam
Proses Pembuatan Filter Busa Logam
Keunikan proses impregnasi busa organik terletak pada penggunaan kerangka jaringan 3D sel terbuka dari busa organik berstruktur khusus untuk menyiapkan suspensi yang baik, melapisinya secara merata ke dalam jaringan dalam bentuk organik, dan membakarnya setelah porositas jaringan terbentuk sehingga gelembung-gelembung organik terlepas. Ukuran pori produk akhir terutama ditentukan oleh ukuran pori busa organik, dan ketebalan busa organik juga berkaitan dengan ketebalan lapisan. Namun, struktur tubuh berpori dari jaring pori hampir sama dengan struktur matriks busa organik, yaitu struktur kerangka jaring 3D yang terlihat dengan mata telanjang.
Struktur khusus ini menjadikannya bahan penyaring yang memiliki keunggulan signifikan:
- Pada fluida, kehilangan tekanannya kecil.
- Luas permukaan dan efisiensi kontak fluida sangat tinggi.
- Ringan. Keramik berpori secara khusus digunakan untuk penyaringan cairan pada filter logam cair. Dibandingkan dengan bahan yang disinter dan kain serat kaca, pengoperasiannya lebih sederhana, yang tidak hanya menghemat energi dan mengurangi biaya, tetapi juga memiliki efisiensi penyaringan yang lebih tinggi.
Busa organik yang digunakan untuk membuat bahan keramik berpori jaring harus memenuhi syarat-syarat berikut:
(1) Bahan tersebut harus berupa bahan jaring agar dapat menembus dengan leluasa, dan bubur keramik dapat saling menempel, sehingga membentuk jaringan kerangka tiga dimensi selama proses pembakaran.
(2) Bubur keramik harus memiliki tingkat hidrofilisitas tertentu dan daya adsorpsi yang kuat.
(3) Bahan tersebut harus memiliki elastisitas yang cukup agar lumpur berlebih dapat segera diperas keluar setelah memantul dan kembali ke bentuk semula.
(4) Zat tersebut menguap pada suhu di bawah suhu sintering keramik dan tidak mencemari keramik tersebut.






