Daur Ulang Aluminium, Konsumsi Energi dalam Proses Peleburan Aluminium

Organisasi Daur Ulang Kemasan Aluminium (Alupro) dilaporkan telah menandatangani kesepakatan dengan Resource Efficient Data untuk mendapatkan akses ke platform data limbah Inggris milik perusahaan rintisan data yang berbasis di Cardiff tersebut. Platform tersebut menyimpan data sumber terbuka dari Waste Data Flow, yaitu sistem berbasis web untuk pelaporan data limbah perkotaan yang digunakan oleh pemerintah daerah.

Rick Hindley, direktur eksekutif Alupro, mengatakan: “Kami langsung melihat manfaat dan kemudahan penggunaan platform data limbah Inggris dari Resource Efficient Data. Platform ini akan membantu kami menganalisis dan membandingkan data secara lebih mendalam, khususnya dalam rangka program MetalMatters yang kami jalankan bersama mitra otoritas lokal kami.”

Daur Ulang Aluminium

Daur Ulang Aluminium

MetalMatters adalah program yang didanai oleh industri yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat pengumpulan kemasan logam yang dikumpulkan untuk didaur ulang di tepi jalan.

Tuan Hindley juga mengatakan, “Data yang selama ini kami terima untuk menganalisis dampak program ini bervariasi, mulai dari yang sangat baik hingga yang cukup buruk, yang terkadang membuat analisis menjadi sangat sulit. Platform ini tentu akan membantu kami dalam menganalisis program untuk memperoleh hasil yang lebih jelas, serta mengidentifikasi pemerintah daerah baru yang dapat memperoleh manfaat dari dukungan kami.”

Daur ulang kemasan aluminium telah mencapai tingkat yang sangat tinggi. Menurut informasi dari para ahli industri, pada tahun 2015, terdapat sekitar 108.900 ton kemasan aluminium di Jerman, di mana 94.800 ton di antaranya dapat didaur ulang. Angka ini setara dengan tingkat daur ulang sebesar 87%, yang mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Secara global, bisnis daur ulang logam terus berkembang. Menurut para ahli, sejak tahun 1980, produksi logam daur ulang telah meningkat empat kali lipat, dari 5 juta metrik ton menjadi 20 juta metrik ton. Sebaliknya, produksi aluminium baru meningkat dari 15 juta metrik ton menjadi 40 juta metrik ton selama periode yang sama, dengan kenaikan yang relatif kecil.

Konsumsi Energi dalam Proses Peleburan Aluminium

Pada tahun 1980-an, Jepang bahkan menghentikan sepenuhnya produksi aluminium dalam negeri. Pada tahun 2012, tingkat daur ulang aluminium bahkan mencapai 94,7%. Sebanyak 19,12 miliar kaleng aluminium, setara dengan 300.000 ton bahan baku, di mana 18 miliar kaleng di antaranya dapat digunakan kembali atau didaur ulang, atau setara dengan 285.000 ton. Energi yang dihemat melebihi 6 miliar kWh, cukup untuk memasok listrik ke 52 juta rumah tangga di Jepang selama 13 hari.

Kemasan Aluminium

Kaleng minuman mencakup pangsa terbesar dari kemasan aluminium semi-kaku dan kaku. Yang aluminium daur ulang Kemasan tersebut dapat ditekan menjadi batangan aluminium, lalu diolah menjadi produk (seperti badan kaleng). Para ahli berpendapat bahwa kandungan aluminiumnya sangat tinggi, dan nilai pasarnya pun sangat tinggi.

Sebagai perbandingan, limbah kemasan fleksibel biasanya sangat tipis, dan sebagian besar dilapisi kertas atau plastik. Saat ini, dengan memanfaatkan teknologi canggih, aluminium dalam bahan pelapis sudah dapat dipisahkan dari lapisan pelapisnya, sehingga memungkinkan daur ulang berputar tertutup.

Manfaat Daur Ulang Aluminium

Aluminium dapat didaur ulang berkali-kali tanpa mengalami penurunan kualitas. Manfaat ekonomi dan ekologis terbesar adalah bahwa produksi aluminium baru membutuhkan banyak energi, sedangkan proses daur ulang hanya membutuhkan sekitar 5% dari energi yang diperlukan untuk melebur kembali bahan aluminium dan menggunakannya kembali.

Leave a Reply