Proses awal pembuatan filter keramik berbahan busa dilakukan dengan melapisi prekursor poliuretan berpori terbuka dengan bubur keramik. Busa berpori terbuka, yang sebaiknya berupa busa poliuretan, diresapi dengan bubur keramik, di mana seluruh struktur busa berpori terbuka tersebut sebaiknya tertutupi oleh bubur keramik. Ukuran pori busa sebaiknya berkisar antara sekitar 10 hingga sekitar 70 PPI. Busa yang telah diresapi sebaiknya dikompresi untuk mengeluarkan 25% hingga 85% bubur keramik sambil tetap menjaga lapisan pada rangka poliuretan. Dalam operasi produksi komersial, busa yang telah diresapi dapat dilewatkan melalui satu atau lebih rol yang telah diatur sebelumnya untuk mencapai kondisi pelepasan bubur yang diinginkan dari busa, sehingga meninggalkan jumlah lapisan yang diinginkan pada prekursor poliuretan.

Busa yang telah diimpregnasi tersebut kemudian dipanaskan hingga suhu yang cukup untuk menghilangkan air bebas guna mengeringkan campuran tersebut. Busa poliuretan yang telah diresapi dan dikeringkan tersebut kemudian dipanggang pada suhu tinggi untuk membentuk ikatan keramik. Busa keramik yang dihasilkan pada dasarnya merupakan rangkaian pilar, yang memiliki pori-pori internal yang tersisa dari busa poliuretan yang terbakar habis selama proses pemanggangan. Teknologi pembuatan filter busa keramik sudah dikenal luas dalam bidang ini.
Air bebas dalam busa yang telah diimpregnasi kemudian dihilangkan melalui proses pengeringan pada suhu 35°C hingga 200°C selama 2 menit hingga 6 jam. Setelah pengeringan, bahan tersebut dipanaskan pada suhu tinggi untuk mengikat atau menyinter partikel keramik yang membentuk struktur filter. Tahap kedua adalah memanaskan hingga suhu 900°C hingga 1700°C dan mempertahankan suhu dalam rentang ini selama 2 menit hingga 10 jam untuk mengikat keramik. Produk yang dihasilkan adalah busa keramik cair dengan struktur sel terbuka, yang ditandai oleh sejumlah rongga yang saling terhubung dan dikelilingi oleh jaring keramik. Busa keramik ini dapat memiliki konfigurasi apa pun sesuai dengan kebutuhan untuk aplikasi tertentu. penyaringan logam cair proses.
Prekursor keramik tersebut mengandung komponen utama yang dipilih dari alumina (Al₂O₃) atau magnesium oksida. Prekursor ini diketahui dapat membentuk alumina dalam bentuk alumina yang disinter dan terikat atau alumina yang terikat oleh aluminium fosfat.
Slurry yang digunakan dalam pembuatan filter keramik berbusa bergantung pada bahan keramik yang dibutuhkan untuk aplikasi yang dipilih. Keramik hasil akhir harus memiliki kinerja yang memadai dalam produk akhir agar mampu bertahan dalam aplikasi tertentu, serta harus memiliki struktur dan kekuatan mekanis yang memadai untuk menahan kondisi penggunaan bersuhu tinggi. Selain itu, slurry sebaiknya memiliki reologi tiksotropik, dapat mengalir selama proses impregnasi slurry, dan yang paling disarankan adalah mengandung suspensi cair dari prekursor keramik yang dimaksudkan untuk dibakar guna membentuk filter. Umumnya, slurry mengandung fase dispersi dan fase pelarut, seperti air. Aditif digunakan dalam slurry, seperti pengikat, surfaktan, dan pengental, yang sebaiknya mudah menguap selama proses pembakaran, untuk mengubah viskositas, sifat pembasahan, atau sifat reologi. Sebutkan pelarut, surfaktan, glidant, bahan pembantu dispersi, bahan pembantu sintering, dll. lain yang sangat cocok untuk digunakan.





















