Proses Produksi Pelat Filter Busa Keramik Alumina

Pelat Filter Busa Keramik Alumina menggunakan struktur jaringan tiga dimensi dan busa organik yang saling terhubung sebagai media pembawa untuk meresapkan bubur keramik khusus yang memiliki sifat tiksotropik, serta menerapkan teknologi ekstrusi gulungan khusus agar bubur keramik tersebut dapat diaplikasikan secara merata pada kerangka media pembawa, kemudian dikeringkan, dipadatkan, dan dipanggang pada suhu tinggi.

Pelat Filter Busa Keramik Alumina

Fitur Pelat Filter Busa Keramik Alumina

Transmisi cahaya

Transmisi mengacu pada luas penyaringan efektif dari produk Pelat Filter Busa Keramik Alumina. Semakin tinggi nilai transmisi, semakin sedikit lubang mati, semakin banyak lubang penyaringan yang efektif (lubang penyaringan), dan semakin baik pula hasil penyaringannya.
Dipastikan bahwa Pelat Filter Busa Keramik Alumina yang akan diuji ditempatkan di dalam kotak cahaya yang dilengkapi lampu pijar 200W, dan pelat plastik transparan berbentuk persegi dengan kotak-kotak berukuran 5 × 5,0 mm digunakan untuk mengukur luas permukaan besar panel filter. Metode pengukuran transmitansi pelat filter dihitung untuk menentukan nilai transmitansi papan filter. Dalam standar ini, transmitansi cahaya (tingkat tembus cahaya) pelat filter ditetapkan sebesar lebih dari 95%.

Filter Keramik untuk Pengecoran

Porositas

Porositas mengacu pada persentase volume total pori-pori dalam Filter Busa Keramik produk dalam volume total pelat filter. Porositas menentukan kapasitas filtrasi pelat filter keramik busa per satuan volume. Semakin tinggi porositasnya, semakin besar kapasitas filtrasi pelat filter tersebut, dan semakin kuat pula kapasitas filtrasinya, dan sebaliknya.
Saat ini, terdapat dua metode untuk menentukan porositas.
Salah satunya adalah menghitung volume lubang pada pelat saringan berdasarkan hukum Archimedes, yaitu dengan menyuntikkan air ke dalam gelas kimia yang dilengkapi pipa luapan hingga air mengalir keluar dari pipa luapan tersebut. Ketika air tidak lagi mengalir keluar, semua sampel yang akan diuji dimasukkan secara perlahan ke dalam air. Pada saat ini, air mengalir keluar melalui pipa luapan, dan volume air yang meluap dikurangkan dari volume fisik pelat saring; hasilnya adalah volume total lubang pada pelat saring.
Metode lainnya adalah dengan menentukan densitas sebenarnya dan densitas volume sampel pelat filter yang akan diuji, kemudian menghitung porositas sampel tersebut berdasarkan rumus berikut. Salah satu jenis
Kedua metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Metode pertama sederhana dan praktis, serta kecepatan pendeteksiannya tinggi. Namun, kelemahan fatalnya adalah bahan pelat saring memiliki sifat menyerap air, sehingga volume air yang dikeluarkan lebih sedikit daripada nilai sebenarnya, yang menyebabkan data yang diukur menjadi lebih kecil. Meskipun proses pengujian pada metode kedua rumit, pengaruh penyerapan air oleh bahan pelat saring dihilangkan dalam proses pengujian, dan data yang diperoleh relatif akurat.

Keseragaman Pori

Keseragaman pori digunakan untuk menggambarkan selisih antara jumlah lubang aktual per 25,4 mm dan jumlah lubang teoretis yang diperlukan pada produk pelat filter. Semakin kecil selisih tersebut, semakin baik kualitas produknya. Jika selisihnya terlalu besar, hal ini akan menyebabkan berkurangnya kapasitas penahanan kotoran pada produk pelat filter atau kecepatan filtrasi lelehan menjadi terlalu lambat, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan masing-masing pengguna dalam proses produksi.

Leave a Reply